#1: Sebuah Kota Bernama Tokyo

Dari 3 pilihan yang dulu saya tuliskan, 1: Waseda University (Tokyo), 2: Nagoya University (Nagoya), 3: Ritsumeikan University (Shiga), Monbukagakusho menempatkan saya di pilihan pertama. Artinya dari Bandung saya akan melanjutkan hidup saya sekitar 3 tahun di Tokyo.

Tokyo, sebuah kota besar. Dari namanya sendiri, 東京, sudah berarti Eastern Capital. Tak akan ada orang yang menyebut kota ini kota kecil. Gedung tinggi di mana-mana, lampu terang benderang di malam hari, jalur kereta yang sangat banyak. Pergi sedikit saja ke tempat di pinggirnya Tokyo, akan terasa sekali perbedaannya. Rasanya lapang sekali pandangan mata kalau tidak melihat gedung yang tinggi serta hamparan tanah yang luas. :P

Tokyo, sebuah kota yang ramai. Saking ramainya dengan umat manusia, pertama kali melihat orang menyeberang di persimpangan di Shibuya mungkin Anda akan ternganga dan berpikir, “sumpah itu manusia semua? :o “. Dan cobalah berada di antara lautan manusia itu di rush hour. Gerbong kereta dengan manusia yang berdesakan seperti sarden sudah jadi pemandangan biasa. Masuk kereta di mana kita benar-benar cuma dapat space berdiri tanpa ada ruang untuk bergerak itu bukan hal baru. Juga bukan hal aneh melihat orang yang masih maksa masuk, padahal dengan logika sederhana kita jelas bahwa kereta itu sudah sangat padat dan tidak bisa diisi lagi. Tapi luar biasanya mereka masih bisa masuk lho walau saya pribadi pastinya lebih memilih tunggu kereta berikutnya saja. :P

Tokyo, kota di mana semuanya bergerak cepat. Transportasi cepat karena di kota ini kereta adalah transportasi utama. Pun jeda jadwal keretanya mayoritas di bawah 10 menit. Bahkan di stasiun terdekat dari asrama saya antara jam 8-9 pagi di weekdays itu kereta ada tiap 2 menit. Tidak hanya kereta, manusianya juga bergerak cepat. Suara langkah kaki yang berjalan cepat atau berlari-lari kecil adalah irama musik sehari-hari. Anda yang terbiasa berjalan pelan ala putri keraton mungkin sebaiknya coba berlatih jalan cepat sebelum tinggal di sini. :P

Tokyo, kota yang sangat mahal. Sudah sering kota ini dapat peringkat 1 kota termahal di dunia. Dan memang begitu adanya. Semuanya mahal. Sewa tempat tinggal mungkin hal yang terasa sangat kontras dengan kota lain. Anda sewa satu kamar kecil di sini, di kota lain mungkin bisa dapat kamar yang luas lengkap dengan dapur dan ruang tamu yang bagus. Mahal memang. Tapi dari pengalaman saya, itu ternyata tidak perlu dikuatirkan. Beasiswa dari Monbukagakusho insyaAllah cukup tanpa kerja paruh waktu sekalipun, dan bahkan juga masih bisa menabung. Tapi tergantung gaya hidup Anda juga sih. Hehe.

Tokyo, kota yang convenientConvenient di sini sederhananya dideskripsikan dengan banyaknya convenience store semacam Lawson, Family Mart, 7-eleven, Circle-K, dkk. Yang artinya tidak sulit untuk mencari barang kebutuhan. Akses ke berbagai tempat juga sangat mudah dan nyaman dengan transportasi publik yang ada. Dan buat muslim khususnya, toko bahan makanan halal serta masjid bukanlah hal yang langka walau jumlahnya memang tidak banyak.

Tokyo, kota yang … emmm, saya tidak tau kata apa yang tepat. Kalau di Indonesia adalah hal yang biasa saat Anda duduk di bis bersebelahan dengan orang yang tidak Anda kenal lalu Anda bercakap-cakap tanpa merasa orang itu stranger, atau  hal yang biasa saat Anda kebingungan di jalan dan bertanya kepada siapapun yang sedang lewat, maka hal itu akan terasa asing di sini. Mungkin terkesan penduduk sini individualis. Entahlah. Tapi untuk sektor jasa dan pelayanan publik, saya bisa jamin mereka lebih ramah dan selalu tersenyum. Jauh jauh lebih baik ketimbang pelayanan publik di Indonesia yang katanya penduduknya ramah itu. Di sini tidak ada mbak-mbak yang pasang muka jutek saat menghadapi pelanggan. *curcol* :P

Tokyo, kota yang penduduknya hobi antri. Ahaha, itu judgement saya saja sih. Contoh gampangnya, saya sering melihat antrian panjang hingga beberapa meter untuk masuk ke restoran. Kalau saya sih, mending cari tempat makan lain saja ketimbang mesti antri lama seperti itu, keburu konser lambungnya.

Tokyo, kota yang cukup banyak orang asingnya. Saya tidak punya fakta jumlahnya berapa, tapi rasanya begitu, entah itu yang mahasiswa ataupun yang bekerja. Dan kota ini sudah cukup ramah dengan menyediakan informasi penunjuk jalan dengan bahasa Inggris. Pergi ke kota lain dan tidak menemukan huruf Latin itu kadang cukup bikin pusing saya yang tidak bisa baca kanji ini. :P Orang Indonesia juga sangat banyak di Tokyo ini sehingga tidak perlu kuatir tidak bertemu orang Indonesia di sini. :P

Tokyo, kota besar yang tanpa macet. Sejauh daerah yang sudah saya jelajahi di Tokyo ini, saya belum pernah melihat kemacetan lalu lintas seperti halnya di Jakarta. Penduduk di sini memang mayoritas menggunakan sarana transportasi publik yang memang nyaman dan lebih praktis. Kendaraan pribadi yang banyak dimiliki orang-orang pun adalah sepeda. Biaya parkir dan harga BBM sepertinya juga mahal sehingga punya mobil bukan pilihan yang bagus di sini. Profesor pembimbing saya (garis bawahi level profesor :P ) juga pakai kendaraan umum ke kampus. Pernah saya ketemu beliau di bus.

Tokyo, kota yang mendidik saya jadi pejalan kaki. Di samping kereta dan bus, untuk mencapai suatu tempat tentunya masih perlu jalan kaki. Dan di sini jalan kaki 20 menit itu sudah jadi hal biasa. Bandingkan dengan Cisitu-Kampus ITB yang bisa ditempuh dengan jalan kaki 15 menit tapi orang-orang masih memilih naik angkot. :D Dan jalan kaki di sini memang nyaman karena area untuk pejalan kakinya juga nyaman. Bandingkan dengan Indonesia yang trotoarnya kecil, berlubang-lubang, dan jadi tempat berdagang. Hehe.

Anda yang ingin tinggal di Jepang tapi maunya yang tidak terlalu ramai dan cukup tenang, segeralah jauhkan Tokyo dari pilihan Anda. Beberapa teman yang terbiasa tinggal di kota yang lebih kecil dan cukup tenang pernah bilang, “saya ga akan tahan hidup di sini”. Hehe. Namun demikian, dengan segala kombinasi yang ada di Tokyo ini, besar-padat-ramai-mahal, alhamdulillah saya merasa nyaman tinggal di sini dan menikmati hidup di sini dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bahkan mungkin sudah jauh lebih nyaman dibanding tempat yang pernah saya tinggali sebelumnya.

By the way, dulu dalam sebuah training kami disuruh membuat kliping yang menggambarkan mimpi/keinginan yang ingin dicapai ke depannya, dan gambar berikut saya pilih untuk merepresentasikan keinginan saya kuliah di luar negeri. Pilihan saya waktu itu Jepang, tapi belum menetapkan di kota mana. Di peta ini satu-satunya kota yang ditunjukkan adalah Tokyo.

And now, here I am, in Tokyo. 🙂

Kota ini jalan hidup yang sudah digariskan ke saya, kota ini akan jadi tempat di mana saya belajar banyak hal, demi masa depan yang lebih baik.

Reisha Humaira (Waseda University)

Leave a Reply