bung_tomo_by_herlambangjati-d7l8t5k

Bung Tomo : Merdeka atau Mati!

[foto: diambil dari www.google.com]

Seorang pemuda berusia 25 tahun dengan suara yang lantang dan penuh keberanian menyerukan perlawanan kepada pasukan Inggris. Pada hari itu, pidatonya yang disiarkan melalui radio telah ditunggu oleh segenap rakyat Surabaya sebagai jawaban atas ultimatum yang dikeluarkan oleh Pemimpinan Pasukan Inggris. Dalam memperingati Hari Pahlawan, marilah kita kembali meresapi semangat perjuangan rakyat Surabaya dengan membaca penggalan teks pidato berikut dengan penuh semangat!

Bismillahirrohmanirrohim..
Merdeka!!!

Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya.
Kita semuanya telah mengetahui.
Bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua.
Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan,
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang.
Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka

Saudara-saudara.
Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya.
Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,
Pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,
Pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,
Pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing.
Dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung.
Telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol.
Telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.
Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara.
Dengan mendatangkan Presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini. Maka kita ini tunduk untuk memberhentikan pertempuran.
Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri.
Dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.

Saudara-saudara kita semuanya.
Kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu,
dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya.
Ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia.
Ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Dengarkanlah ini tentara Inggris.
Ini jawaban kita.
Ini jawaban rakyat Surabaya.
Ini jawaban pemuda Indonesia kepada kau sekalian.

Hai tentara Inggris!
Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu.
Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu.
Kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu
Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
Yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
Maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga

Saudara-saudara rakyat Surabaya bersiaplah, keadaan genting! Tetapi saya peringatkan sekali lagi. Jangan mulai menembak, baru kalau kita ditembak,
Maka kita akan ganti menyerang mereka itu! Kita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.

Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!
Dan kita yakin saudara-saudara.
Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara.
Tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!!!

Perang Surabaya 10 November 1945, tepat 71 tahun yang lalu, telah menandai awal dari perjuangan seluruh rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Dapatkah anda membayangkan apa yang akan terjadi pada bangsa kita jika pada saat itu Bung Tomo tidak mengumandangkan pidato perlawan terhadap Inggris? Dapatkah anda bayangkan apa yang akan terjadi jika pada saat itu segenap rakyat Surabaya dan sekitarnya tidak melakukan perlawanan? Mungkin semangat mempertahankan kemerdekaan tidak akan awet hingga saat ini.

Tepat hari ini, 10 November, kita memperingati hari Pahlawan untuk mengenang “PULUHAN-RIBU” tentara, pejuang, dan rakyat sipil yang gugur dalam pertempuran tersebut. Mereka berjuang bukan untuk dikenang, bukan pula agar diabadikan dalam buku sejarah atau sebagai pahlawan nasional, melainkan hanya untuk membuktikan bahwa kedaulatan bangsa adalah sesuatu yang harus dijaga dan dipertahankan meskipun nyawa taruhannya.

Perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa tidak akan pernah usai, meskipun perang telah usai dan status kemerdekaan telah kita raih seutuhnya. Namun selama persatuan dan semangat menjaga kebhinekaan terus kita pertahankan, percayalah bahwa “Kemerdekaan” yang sudah diraih oleh para Pahlawan dengan susah payah akan abadi selamanya.

10 November akan selalu menjadi pengingat untuk kita semua bahwa ketika kita ditanya:

MERDEKA ATAU MATI ??

Maka jawablah selantang Bung Tomo:

MERDEKA!!!

Selamat memperingati Hari Pahlawan
Tulisan oleh : Randy Tenderan
Divisi Sosial Politik
PPI KANTO 16/17