earthquake

RUMAH TAHAN GEMPA: SOLUSI YANG TERPINGGIRKAN

Bencana Gempa Bumi merupakan salah satu bencana yang paling unik. Ia berkembang seiring dengan perkembangan zaman, semakin kompleks pembangunan di suatu kota/daerah semakin besar pula risiko kerugian yang dapat ditimbulkan akibat gempa bumi[1]. Gempa itu sendiri sesungguhnya tidaklah menyebabkan korban jiwa, korban akibat bencana gempa justru disebabkan oleh reruntuhan bangunan. Jadi sesungguhnya, gempa bumi itu sendiri tidaklah berbahaya namun kemajuan peradaban yang ditandai dengan semakin kompleksnya pembangunan di suatu daerah secara tidak disadari telah memperbesar risiko korban jiwa akibat gempa. Kapan dan dimana akan terjadinya gempa itu sendiri hingga saat ini masih merupakan suatu hal yang sulit diprediksi, yang dapat dipastikan adalah bahwa kejadian gempa akan berulang tiap periode tertentu, misalnya setiap 30-40 tahun untuk gempa kuat dan 600 tahun untuk gempa sangat kuat[2]. Karakteristik ini tentunya berbeda di tiap lokasi karena bergantung pada pergerakan lempeng/patahan aktif di kerak bumi.

 

Di Indonesia sendiri potensi gempa sangatlah besar, hampir semua pulau besar di Negara kita (kecuali Kalimantan) memiliki risiko gempa yang mematikan. Jika diklasifikasikan, gempa bumi itu sendiri dapat dibagi menjadi dua berdasarkan letak pusat gempanya yaitu gempa lepas pantai (off-shore Earthquake) yang kadang berpotensi Tsunami seperti Gempa Aceh 2004 dan gempa dekat patahan (near fault Earthquake) seperti Gempa Aceh 2016. Meskipun karakteristik dan intensitas gempa berbeda, kedua jenis gempa tersebut dapat memiliki dampak yang sama. Gempa Aceh 2016 misalnya, meskipun hanya memiliki skala guncangan 6.5 SR namun karena pusat gempa sangat dekat dengan daerah pemukiman, guncangan yang dirasakan pun sangatlah keras dan menyebabkan ratusan rumah roboh.

 

Jika berbicara tentang mitigasi bencana gempa, persiapan adalah kunci utama, karena kapan dan dimana gempa akan terjadi masih sulit untuk diprediksi. Dua hal yang umumnya dipersiapkan adalah “pembangunan rumah tahan gempa” dan sosialisasi tentang apa yang harus dilakukan saat gempa terjadi. Sosialisasi tentang apa yang harus dilakukan saat gempa sudah banyak dilakukan baik secara terorganisir maupun dari mulut ke mulut, namun perhatian khusus tentang pembangunan rumah tahan gempa di Indonesia masih sangat minim.

 

Pandangan masyarakat umum tentang rumah tahan gempa itu sendiri masih cenderung mengarah kepada penerapan teknologi yang kompleks dan mahal sehingga sulit untuk dijangkau, padahal sebenarnya bangunan tahan gempa adalah suatu “konsep”. Konsep tersebut tentunya sangat adaptif dan bisa diterapkan bahkan untuk bangunan tradisional sekalipun. Prinsip dasar dari penerapan konsep bangunan tahan gempa adalah menghindari jatuhnya korban jiwa akibat reruntuhan bangunan saat gempa terjadi. Misi utamanya adalah menyelamatkan seluruh penghuni bangunan tersebut, untuk itu bangunan tidak boleh “runtuh seketika” sehingga penghuninya punya waktu yang cukup untuk melakukan evakuasi ke luar rumah. Hal yang menarik adalah bangunan boleh “rusak”, bahkan rusak parah sekalipun, dan untuk membuat bangunan tidak runtuh seketika namun boleh rusak, sesungguhnya hanya butuh tambahan sedikit “trik” didalamnya. Paska Gempa Padang 2009 misalnya, telah dibuat suatu pedoman oleh para praktisi bangunan tahan gempa di Indonesia tentang cara memperbaiki bangunan sehingga menjadi bangunan tahan gempa. Pedoman tersebut ditujukan untuk masyarakat Padang yang hendak merekonstruksi rumahnya yang rusak akibat gempa, dalam pedoman tersebut tentunya diadopsi model rumah tradisional yang banyak digunakan masyarakat padang seperti rumah bata sederhana[3].

 

Agak kompleks memang jika membahas tentang masalah penerapan bangunan tahan gempa di Indonesia karena pada kenyataannya kita dihadapkan pada masalah yang cukup fundamental. Faktanya sebagian besar rumah/bangunan di Indonesia dapat dikategorikan sebagai “Non-Engineered Buildings” yaitu bangunan atau rumah yang dibangun dengan cara tradisional, tanpa atau dengan sedikit intervensi dari seorang ahli struktur bangunan dalam proses desain dan konstruksinya[4]. Masalah ini merupakan masalah yang umum dihadapi di Negara-negara berkembang, namun di Negara rawan gempa seperti Indonesia, masalah ini semakin membahayakan karena menyebabkan sebagian besar bangunan sangat rapuh dalam menahan guncangan gempa.

 

Respon masyarakat terhadap pembangunan rumah tahan gempa sesungguhnya cukup positif. Berdasarkan survey yang dilakukan di Bandung dan Yogyakarta terhadap 800 pemilik rumah, sekitar 50% berpikir bahwa bencana gempa adalah bencana yang paling berbahaya dibandingkan bencana lain (seperti banjir, longsor, angin puting-beliung) karena dapat mengakibatkan kematian, cedera, dan kehilangan rumah beserta properti lainnya[5]. Dua per tiga diantaranya pun sudah sadar bahwa ketika rumah mereka runtuh akibat gempa, hal tersebut disebabkan karena buruknya kualitas material bangunan dan tidak adanya intervensi dari ahli struktur bangunan dalam desain maupun kontruksi[6]. 60% bahkan bersedia mengeluarkan biaya yang setara dengan pendapatan mereka selama 2 – 5 tahun untuk membangun rumah tahan gempa dan 20% bersedia mengeluarkan biaya setara dengan 6 bulan – 2 tahun pendapatan[7]. Namun saat diminta memberi pendapat tentang siapakah yang harus bertanggungjawab akan korban jiwa yang timbul akibat bencana gempa, 70% diantaranya menjawab “tidak tahu” sedangkan yang lainnya menyalahkan pemerintah, diri sendiri, dan tukang bangunan[8]. Hal tersebut menunjukkan bahwa di satu sisi masyarakat punya keinginan untuk membuat rumah mereka tahan gempa, namun di sisi lain sebagian besar diantaranya masih merasa pesimis akan hal tersebut bisa terwujud sehingga cenderung pasrah dan menganggap bahwa kematian dan kerusakan akibat bencana gempa adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dan tidak ada yang patut disalahkan. Disinilah pemerintah seharusnya mengambil peran untuk mendorong masyarakat menerapkan konsep rumah tahan gempa, terutama pemerintah daerah yang daerahnya sangat rawan terhadap gempa.

 

Pemilik rumah dan tukang bangunan setempat diidentifikasi sebagai pihak yang paling banyak mengambil peran dalam konstruksi rumah tinggal di negara berkembang, termasuk Indonesia[9]. Bagi pemilik bangunan, pertimbangan ekonomi atau biaya pembangunan adalah hal yang utama[10], mereka ingin biaya tersebut semurah mungkin sehingga sering kali mengabaikan aspek ketahanan bangunan terhadap gempa, di sisi lain tukang bangunan lokal sebagai pelaksana juga tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk menerapkan konsep rumah tahan gempa sehingga tidak heran jika bangunan-bangunan yang dihasilkan tidak memiliki ketahanan terhadap gempa. Disinilah pemerintah lokal dapat mengintervensi kedua elemen tersebut, misalnya dengan program “kredit rumah tahan gempa bersubsidi”. Daripada membangun rumahnya secara swadaya, pemerintah dapat mengajak pemilik rumah agar mengikuti program kredit bersubsidi tersebut, dimana sebagian porsi biaya tambahan untuk membuat rumah biasa menjadi tahan gempa akan disubsidi oleh pemerintah sehingga sebagai timbal baliknya pemilik rumah dapat memiliki rumah yang tahan gempa dengan biaya yang relatif sama. Tentunya intervensi pemerintah tidak hanya sebatas memberi subsidi melainkan juga mengambil alih seluruh proses konstruksi melalui program tersebut dan menunjuk tenaga ahli yang kompeten, sehingga secara tidak langsung juga dapat mengurangi maraknya praktek pembangunan “non-engineered buildings”. Program ini juga dapat menjadi ajang sosialisasi tentang pentingnya membangun rumah tahan gempa di daerah rawan gempa.

 

Program tersebut juga harus dilengkapi dengan pelatihan untuk tukang-tukang bangunan lokal mengenai teknik/konsep pembangunan rumah tahan gempa[11], karena pemanfaatan tenaga-tenaga lokal dalam konstruksi tentunya jauh lebih murah dibanding harus mendatangkan dari luar daerah. Di samping itu, pelatihan tersebut juga secara tidak langsung berperan dalam penyebaran pengetahuan dan keterampilan dalam pembangunan rumah tahan gempa kepada masyarakat lokal. Program tersebut dapat pula ditindaklanjuti dengan penambahan jurusan baru tentang pembangunan rumah tahan gempa pada sekolah-sekolah vokasional, politeknik, dan/atau perguruan tinggi setempat sehingga penyediaan tenaga ahli bangunan yang paham tentang konsep rumah tahan gempa dapat berasal pula dari putra/putri daerah, hal ini secara tidak langsung meningkatkan kemandirian suatu daerah untuk membentuk suatu komunitas yang melek terhadap isu kebencanaan, terutama gempa bumi.

 

Proses inisiasi di awal untuk mendorong masyarakat menerapkan konsep rumah tahan gempa memang sulit, namun ketika beberapa orang dalam suatu komunitas sudah berhasil didorong untuk membangunan atau memperkuat rumah mereka agar menjadi tahan gempa maka proses penyebaran dapat dilakukan dengan lebih efektif melalui pengaruh lingkungan[12]. Secara psikologi, manusia senang meniru lingkungan sekitarnya dan di daerah dengan nilai kekerabatan yang kuat sering kali ajakan dari tetangga atau teman-teman sekitar lebih kuat pengaruhnya dibandingkan dari pemerintah.

 

Menerapkan konsep rumah tahan gempa di seluruh daerah rawan gempa di Indonesia bukanlah sesuatu yang mustahil baik dari segi teknis maupun non-teknis, hanya saja selama ini perhatian yang kita berikan terhadap isu kebencanaan, terutama gempa bumi, masih terlalu minim dibandingkan dengan dampak paling fatal yang dapat ditimbulkan akibat gempa bumi yaitu kematian, sesuatu yang tidak dapat diganti, diobati, atau dipulihkan ketika sudah terjadi. Isu kebencanaan sudah sepatutnya menjadi sesuatu yang wajib dipertimbangkan dalam pembangunan, membangun rumah di bukit yang rawan longsor sama saja dengan mengantarkan nyawa, demikian pula membangun rumah di daerah rawan gempa dengan mengabaikan penerapan konsep rumah tahan gempa sama saja dengan meningkatkan risiko kematian akibat gempa bumi secara tidak langsung. Oleh karena itu, di negara rawan gempa seperti Indonesia, isu ketahanan terhadap gempa sudah sepantasnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pembangunan, baik pembangunan rumah tinggal, gedung, maupun infrastuktur penting lainnya.

 

 

Referensi:

[1] Wada A., Mori N. (2012), Advanced Seismic Design of Buildings for The Resilient City. Proceedings of the 2nd International Conference, Mukogawa Women’s Univ., Nishinomiya, Japan. Invited Talk 001.

[2] Yamanaka H. (2016), What has happened during the 2011 Tohoku Earthquake. Lecture on Earthquake and Tsunami Disaster Reduction, Tokyo Institute of Technology, Japan.

[3] Boen T., et al. (2010), Cara Memperbaiki Bangunan Sederhana yang Rusak Akibat Gempa Bumi. Jakarta, Indonesia.

[4], [9] Okazaki K., Pribadi K.S., Kusumastuti D., Saito T. (2012), Comparison of Current Construction Practices of Non-Engineered Buildings in Developing Countries. 15th World Conferences on Earthquake Engineering (WCEE), Lisboa, Portugal.

[5], [6], [7], [8] Okazaki K., Ilki A., Ahmad N., Kandel R.C., Rahayu H. (2008), Seismic Risk Perception of People for Safer Housing. 14th World Conferences on Earthquake Engineering (WCEE), Beijing, China.

[10], [11], [12] Pandey B.H., Okazaki K., Ando S. (2008), Dissemination of Earthquake Resistant Technologies for Non-Engineered Construction. 14th World Conferences on Earthquake Engineering (WCEE), Beijing, China.

[Sumber gambar : google.com]

 

Penulis:

Randy Tenderan

Divisi Sosial-Politik PPI Kanto 2016/2017

Tokyo Institute of Technology

M1, Dept. of Architecture and Building Engineering